MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM-MEKKAH – Sistem penempatan tenda jemaah haji di Mina pada musim haji tahun 2026 ini menghadirkan terobosan yang unik dan berbeda total dari tahun-tahun sebelumnya.
Pemerintah Arab Saudi kini menyerahkan tata kelola tenda di Mina kepada dua perusahaan penyedia layanan atau syarikah, yaitu Syarikah Al-Bait Guests (BTG) dan Syarikah Rokin Masyair (RKM).
Menariknya, kedua syarikah ini menerapkan kebijakan yang bertolak belakang dalam mengatur ruang istirahat bagi para jemaah.
Beda Syarikah, Beda Aturan: Kebijakan Gender vs Sistem Kloter
Sistem pembagian ruang di dalam tenda Mina sepenuhnya bergantung pada syarikah mana yang mengelola maktab wilayah tersebut.
Berikut perbedaan mendasarnya:
Syarikah Al-Bait Guests (BTG): Menerapkan pemisahan tenda secara ketat berdasarkan jenis kelamin. Jemaah laki-laki (ikhwan) dan jemaah perempuan (akhwat) ditempatkan di tenda yang berbeda dan terpisah.
Syarikah Rokin Masyair (RKM): Tidak memisahkan tenda berdasarkan gender. Syarikah ini mengelompokkan jemaah secara utuh berdasarkan Kelompok Terbang (Kloter). Sebagai contoh, jemaah dari Kloter 21, 22, dan 23 akan menempati tenda masing-masing tanpa ada pemisahan wilayah laki-laki dan perempuan di tenda yang berbeda.
Panduan Jemaah Haji 2027: Apa Saja yang Bisa Dikendalikan ?
Bagi Anda jemaah haji yang dijadwalkan berangkat pada tahun 2027, pola acak ini perlu dipahami sejak dini. Ada hal yang mutlak menjadi ketetapan sistem, namun ada pula yang bisa Anda pilih sendiri:
Yang Tidak Bisa Dipilih Jemaah
Pilihan Syarikah: Jemaah haji reguler tidak dapat memilih untuk ikut Syarikah BTG atau RKM. Penentuan ini bersifat acak (rizki-rizkian) dan jemaah wajib mengikuti sistem yang didapatkan.
Petugas Kloter: Jemaah tidak bisa memilih pendampingan dari ustaz, dokter, atau perawat tertentu karena semua sudah diplot berdasarkan pembagian kloter.
Yang Bisa Dikendalikan Jemaah
Memilih KBIHU: Satu-satunya hal yang bisa dipilih secara mandiri oleh jemaah sejak masih di tanah air adalah menentukan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) yang akan diikuti.
Strategi Cerdik KBIHU Gema Arafah Atasi Tenda Campur
Adanya potensi jemaah bercampur dalam satu tenda (pada Syarikah RKM) disikapi secara adaptif oleh KBIHU Gema Arafah. Demi menjaga kenyamanan, privasi, dan syariat, Pembimbing Ibadah KBIHU Gema Arafah, Dr. G.M. Murnianti, Sp.Ort., melakukan langkah diplomasi di lapangan.
Dr. Murnianti melakukan pendekatan personal kepada : Ketua Kloter,
Ketua Rombongan (Karom), Ketua Regu (Karu)
Hasilnya: Melalui koordinasi tersebut, dilakukan pengaturan ulang dan penggabungan tenda antar-KBIHU yang berada dalam satu wilayah.
Jemaah yang berada dalam lingkup satu Kabupaten Wonosobo akhirnya dapat membaur dan saling berbagi ruang, sehingga jemaah laki-laki dan perempuan tidak perlu bercampur dalam satu ruangan tenda.
Komitmen Layanan : Semua Jemaah adalah Tamu Allah
Meskipun dinamika di Mina sangat tinggi, Dr. Murnianti mengimbau jemaah untuk tetap tenang dan mengedepankan semangat saling membantu. Ia menegaskan bahwa prinsip utama petugas adalah berkhidmat secara menyeluruh tanpa memandang bendera KBIHU.
"Prinsip kami adalah berkhidmat. Melayani tamu-tamu Allah tidak perlu membeda-bedakan apakah itu jemaah dari KBIHU kami atau bukan, bahkan untuk jemaah mandiri sekalipun," tegas Dr. Murnianti.
Komitmen inklusif ini dibuktikan langsung saat proses pendistribusian makanan (drop makanan). Pihak KBIHU membagikannya secara merata tanpa tebang pilih kepada siapa saja jemaah yang belum terlayani.
Satu-satunya batasan yang diperjuangkan secara ketat di lapangan hanyalah pemisahan ruang tidur berdasarkan gender demi menjaga kehormatan, aurat, dan kesucian ibadah.
Melalui kebersamaan, toleransi yang tinggi, dan saling memotivasi dalam kebaikan selama di Mina, diharapkan seluruh jemaah dapat menjalani puncak ibadah haji dengan khusyuk dan meraih predikat haji yang mabrur.
Kontributor : Emi
Editor : Rudyspramz
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!