MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM-MINA - Ada pemandangan unik sekaligus penuh rasa syukur di maktab jemaah haji Indonesia yang mengambil jalur Tarwiyah tahun ini. Meski harus merogoh kocek sendiri karena tidak masuk dalam fasilitas paket reguler pemerintah, para jemaah justru dikejutkan dengan pelayanan di luar dugaan dari pihak maktab.
Sebagai informasi, ibadah Tarwiyah yaitu berjalan atau berangkat menuju Mina pada hari Tarwiyah (8 Zulhijah) atau sehari sebelumnya merupakan salah satu sunah yang sangat dianjurkan dalam ibadah haji.
Berikut adalah deretan fakta menarik dan potret antusiasme jemaah Tarwiyah Indonesia saat tiba lebih awal di Mina :
Bayar Mandiri Demi Kejar Sunah
Biaya Tambahan: Karena agenda Tarwiyah berada di luar skema akomodasi reguler, jemaah yang berkomitmen menghidupkan sunah ini harus mengeluarkan biaya mandiri sebesar 250 Riyal per orang.
Tiba Lebih Awal : Dengan biaya tersebut, jemaah mendapatkan akses transportasi dan pengondisian maktab di Mina lebih awal dibandingkan jemaah reguler lainnya demi mempersiapkan puncak haji.
Strategi Unik Syarikah Raken: Pesan Langsung dari Resto Arab
Ada alasan kuat mengapa jemaah Tarwiyah kali ini justru dimanjakan dengan kuliner premium. Pihak Syarikah Raken selaku pengelola maktab memilih langkah yang dinilai sangat praktis namun membawa berkah bagi jemaah:
Siasat Praktis: Demi efisiensi pelayanan dan ogah repot menerjunkan tim masak/dapur umum terlalu dini di Mina, Syarikah Raken mengambil kebijakan tak biasa.
Kuliner Restoran: Mereka memilih untuk memesan langsung paket makanan siap saji dari jaringan restoran lokal Arab Saudi yang terkenal.
Lahap Santap Nasi Arab, Obat Rindu Kuliner Lokal
Menu yang datang ke tenda-tenda jemaah bukanlah menu masakan Nusantara yang biasa mereka temui sehari-hari, melainkan hidangan autentik Timur Tengah.
"Alhamdulillah, jemaah haji Tarwiyah mendapatkan bonus makan malam berupa nasi Arab yang lezat," tulis laporan langsung dari lokasi maktab.
Jemaah disajikan porsi besar nasi Arab autentikyang diperkirakan merupakan varian nasi kapsa, nasi kebuli, atau nasi briani lengkap dengan lauk ayam panggang khas yang kaya rempah.
Uniknya, hidangan ini justru menjadi obat penawar rindu. Setelah berhari-hari di hotel Makkah selalu mengonsumsi katering bercita rasa Nusantara, jemaah mengaku sangat menikmati variasi kuliner lokal Saudi ini. Mereka menyantap hidangan tersebut dengan sangat lahap di dalam tenda Mina.
Amunisi Energi Jelang Puncak Haji
Momen makan malam bersama dengan menu nasi Arab ini bukan sekadar urusan perut. Datang lebih awal di Mina memberikan keuntungan psikologis dan fisik bagi jemaah Tarwiyah.
Dengan kondisi perut yang terisi makanan bergizi dan berkualitas dari restoran lokal, para jemaah kini memiliki waktu istirahat yang cukup sekaligus amunisi energi yang prima untuk menghadapi rangkaian ibadah berat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) beberapa hari ke depan.
Kontributor : Emi
Editor : Rudyspramz
Komentar
Maa Syaa Allah .... Itulah balasan bagi orang yang ikhlas dan senantiasa bersyukur dalam kondisi apapun.. Barakallah fiik...