OPINI 2 menit baca

LAPANGAN HIJAU, DAKWAH NYATA : Lima Pelajaran untuk Muhammadiyah

Rudi Pramono 20 Juli 2026 32 views
LAPANGAN HIJAU, DAKWAH NYATA : Lima Pelajaran untuk Muhammadiyah

Oleh: Bambang wen

Sepakbola bukan sekadar olahraga. Di balik 90 menit di lapangan hijau, ada banyak pelajaran hidup yang ternyata sangat relevan dengan cara kita mengelola persyarikatan.

Turnamen sepakbola PDM Wonosobo Cup 2026 yang baru saja kita gelar, dan Final  Piala Dunia FIFA 2026 tadi malam bukan hanya soal siapa yang juara. Lebih dari itu, pertandingan ini mengingatkan kita: mengelola Muhammadiyah juga seperti mengelola sebuah tim sepakbola.

Apa saja pelajarannya?

1. Kemenangan Lahir dari Kerja Tim, Bukan Satu Bintang
Messi sehebat apa pun, tetap butuh 10 pemain lain.  
Di Muhammadiyah juga begitu. PDM tidak akan kuat jika PCM diam. PCM tidak akan hidup jika PRM pasif. AUM, Ortom, Majelis harus saling "mengumpan" dan menyupport satu sama lain.

Jangan ada yang merasa paling penting. Karena gol baru tercipta ketika semua bergerak ke arah yang sama: memajukan dakwah Islam berkemajuan.

2. Tim Hebat Pasti Punya Strategi
Tim yang asal main, pasti kalah.  
Muhammadiyah juga butuh "game plan". Visi 5 tahun, program kerja, KPI PDM, PCM dan PRM, target CRM Award, penguatan ranting.

Pertanyaannya: kita mau "main menyerang" atau "bertahan" tahun ini? Kemana arah umpan-umpan dakwah kita? 
Kalau strategi jelas, maka setiap pengurus tahu posisinya: ada yang jadi striker di pendidikan dan kesehatan, ada yang jadi bek di sosial, ada yang jadi kiper menjaga marwah persyarikatan, dll.

3. Disiplin adalah Kunci
Di lapangan, telat satu  detik bisa kebobolan. Kartu kuning diberikan karena melanggar aturan.  
Di persyarikatan, disiplin itu: rapat tepat waktu, laporan transparan, amanah dijalankan, SK dan qoidah  dilaksanakan.

Disiplin kecil inilah yang membuat umat percaya. Karena Muhammadiyah ingin jadi teladan, bukan hanya jago ceramah.

4. Sportivitas: Menang Rendah Hati, Kalah Tetap Bersaudara
Setelah peluit akhir, semua salaman. Tidak ada dendam.  
Begitu juga di persyarikatan. Boleh berbeda pendapat saat musyawarah. Tetapi setelah diputuskan, kita berjalan bersama.

Jangan sampai karena beda pilihan, ukhuwah kita "kartu merah". Lawan kita bukan sesama warga Muhammadiyah. Lawan kita adalah kebodohan, kemiskinan, dan kemunduran umat.

5. Juara Ditempa Lewat Latihan Rutin
Tidak ada tim juara yang lahir dalam semalam. Semua dari latihan tiap sore.  
Ranting yang kuat juga begitu. Bukan dari satu  event besar, tapi dari pengajian rutin, TPQ, kegiatan pemuda, dan memakmurkan masjid tiap pekan.

Tema CRM Award VII 2026 adalah  "Menggerakkan Kaum Muda, Menggiatkan Jamaah." Artinya: mari kita "latihan" terus di tingkat ranting, cabang dan AUM. Gerakkan anak muda. Hidupkan jamaah.

Penutup: Mencetak Gol untuk Umat
Dalam sepakbola, tujuan akhirnya mencetak gol.  
Dalam Muhammadiyah, "gol" kita adalah: terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Kalau sebelas orang di lapangan bisa kompak demi satu gol,  
Maka kita yang mengaku satu aqidah, satu gerakan, harusnya jauh lebih kompak demi memajukan persyarikatan Muhammadiyah.

Mari terus main sebagai tim.  
Karena kita tidak sedang bertanding. Kita sedang berjuang bersama.

Sebelumnya Tumbangkan PCM Sapuran 2-0, PCM Selomerto Raih Juara PDM Won... Selanjutnya Metodologis Fikih Modern: Teori Hierarki Norma Rekonstruksi...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar