Home > Article > Category > OPINI

Ketika Keteguhan dalam Keyakinan menjadi Kehormatan dan Kelemahan menjadi catatan sejarah

Ketika Keteguhan dalam Keyakinan menjadi Kehormatan dan Kelemahan menjadi catatan sejarah

Oleh : Rudyspramz, MPI

Dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa, selalu ada dua arus besar yang saling berhadapan: keteguhan dan kelemahan/ pengkhianatan. Keduanya bukan sekadar pilihan sikap, melainkan jalan peradaban yang menentukan bagaimana sebuah bangsa dikenang dengan hormat atau dengan cela.

Dalam konteks geopolitik hari ini, sikap Indonesia sering dipertanyakan. Alih-alih menggalang kekuatan sebagai negara Muslim terbesar dengan posisi strategis, yang muncul justru kesan kooptasi terseret dalam orbit kepentingan kekuatan besar dunia, termasuk BOP yang beririsan dengan figur seperti Donald Trump. Di titik ini, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah kita sedang membangun kemandirian, strategi yang gagal atau justru kehilangan arah dalam pusaran kepentingan global?

Sebaliknya, kisah Iran terlepas dari perbedaan mazhab, politik, dan ideologi menyuguhkan pelajaran penting tentang keteguhan. Dalam berbagai konflik, termasuk ketegangan dengan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat, Iran menunjukkan satu hal yang tak terbantahkan : keberanian mempertahankan harga diri bangsa.

Bagi mereka, kalah atau menang bukan satu-satunya ukuran. Yang lebih utama adalah martabat : bahwa mereka dikenal sebagai bangsa yang tangguh, siap berkorban, bahkan siap mati demi mempertahankan keyakinan dan kedaulatan. Dan justru di situlah letak penghormatan dunia, bukan selalu pada kemenangan, tetapi pada keteguhan sikap.

Pelajaran ini sesungguhnya relevan untuk kita. Dalam banyak kasus di dalam negeri isu ijazah palsu, korupsi pejabat, hingga melemahnya lembaga penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, yang tampak bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi krisis konsistensi. Bahkan dalam ranah keagamaan seperti perdebatan KHGT, sering kali yang mengemuka bukan keberanian memegang prinsip, melainkan tarik-menarik kepentingan.

Padahal, sejarah menunjukkan satu hukum alam : keteguhan akan melahirkan penghormatan, sementara kelemahan akan meninggalkan noda. Orang atau bangsa yang konsisten pada apa yang diyakininya benar, meski ditentang, meski kalah, bahkan meski disalahkan, tetap akan dihargai. Sebaliknya, mereka yang mudah berbalik arah demi kepentingan sesaat akan dicatat sebagai bagian dari problem, bukan solusi.

Inilah yang dalam perspektif keimanan dapat dibaca sebagai ayat-ayat kauniyah tanda-tanda yang tersebar dalam sejarah peradaban manusia. Ia bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan ibrah bagi masa kini dan masa depan.

Pada akhirnya, sejarah tidak pernah benar-benar diam. Ia mencatat, menilai, dan pada waktunya mengungkap siapa yang teguh menjaga kehormatan, dan siapa yang tergelincir menjadi pengkhianat atau penjilat kekuasaan.

Dan ketika waktu itu tiba, yang tersisa bukanlah retorika, melainkan jejak sikap yang pernah kita pilih dan KH Ahmad Dahlan meninggalkan jejak keberanian dalam pembaruan meski sendirian dan sejarah mencatat hari ini Muhammadiyah menjadi organisasi terbesar di dunia dari sisi aset dan menjadi pelopor mencerahkan umat yang diikuti banyak orang termasuk yg dulu menentangnya

Wallahu a'lam

 

Comments

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Reply