Perbedaan awal Ramadhan setiap tahun selalu berulang. Sebagian memulai lebih dulu, sebagian menunggu rukyat lokal. Sebagian lagi menggunakan hisab dengan batas wilayah masing-masing.
Padahal, kalau kita mundur selangkah dan melihat dari sudut pandang persatuan umat, pertanyaannya menjadi lebih mendasar:
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang ukhuwah global, tetapi dalam soal kalender saja masih terikat ego wilayah masing-masing?
Jika bumi ini satu, jika umat ini satu, mengapa mathla’ masih dibatasi garis politik modern bernama negara?
Kesatuan Wilayah, Kesatuan Umat
Dulu konsep *wujudul hilal wilayatul hukmi* membebaskan umat Indonesia dari fragmentasi lokal. Aceh dan Papua tidak lagi berbeda karena perbedaan ufuk kecil. Negara dipandang satu kesatuan hukum.
Kini gagasan itu diperluas menjadi *wujudul hilal wilayatul ardh* — satu bumi sebagai satu kesatuan wilayah.
Logikanya sederhana:
Sebagaimana Indonesia dipandang satu kesatuan, maka bumi pun demikian.
Kalau di satu titik muka bumi hilal telah wujud secara ilmiah, maka itu adalah fakta astronomis global, bukan fakta lokal.
Dan dampaknya bukan kecil.
Ia melahirkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Satu tanggal.
Satu awal bulan.
Satu momentum ibadah dunia.
Bayangkan kekuatan simboliknya:
Ramadhan dimulai serentak oleh seluruh umat Islam dunia.
Idul Fitri dirayakan bersama oleh miliaran muslim.
Ini bukan sekadar teknis falak. Ini adalah pesan peradaban.
---
Persatuan Itu Dimulai dari Cara Berpikir
Selama kita masih menganggap wilayah negara sebagai batas mutlak dalam ibadah waktu global seperti Ramadhan, maka sebenarnya kita sedang mengakui sekat-sekat politik lebih kuat daripada kesatuan umat.
Padahal Islam lahir sebagai agama yang melampaui batas teritorial.
Allah satu.
Nabi satu.
Kitab satu.
Umatnya pun seharusnya satu.
---
Memaknai Hadits Ru’yah Secara Lebih Luas
Sering kali perdebatan kembali pada hadits:
“Berpuasalah karena melihat (ru’yah) hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
Sebagian memahami *ru’yah* secara letterlijk: melihat dengan mata kepala.
Namun dalam bahasa Arab, kata **ra’a / ru’yah** tidak selalu berarti melihat secara fisik. Ia juga berarti memahami, mengetahui, berpendapat.
Contohnya sangat jelas dalam kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail.
Ketika Ibrahim berkata:
*“Ya bunayya inni araa fil manaam anni adzbahuka…”*
“Wahai anakku, sesungguhnya aku **melihat (araa)** dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…”
Kata yang digunakan adalah **araa** — dari akar kata yang sama dengan ru’yah.
Apakah Ibrahim melihat secara fisik?
Tidak. Ia bermimpi.
Lalu ia berkata kepada Ismail:
> *“Fanzhur maadza taraa…”*
> “Maka bagaimana pendapatmu?” atau di versi terjemahan lain 'Pikirkanlah apa pendapatmu'
Di sini, kata yang sama digunakan untuk makna pendapat, pertimbangan, pandangan ilmiah— bukan melihat dengan mata.
Artinya, dalam Al-Qur’an sendiri, akar kata ru’yah tidak sempit maknanya.
Maka jika ru’yah hilal dipahami sebagai mengetahui dengan kepastian ilmiah melalui hisab astronomi yang akurat, itu masih dalam koridor bahasa dan makna syar’i.
---
Ilmu Adalah Ru’yah Modern
Hari ini manusia mampu mengetahui posisi bulan, elongasi, tinggi hilal, konjungsi, bahkan hingga detik.
Kita tidak sedang mengganti syariat.
Kita sedang menggunakan ilmu untuk memastikan kepastian.
Bukankah ilmu juga bentuk “melihat”?
Melihat dengan akal.
Melihat dengan data.
Melihat dengan perhitungan yang presisi.
---
Persatuan Lebih Besar dari Ego Mathla’
Masalahnya bukan pada rukyat atau hisab.
Masalahnya pada kesediaan untuk keluar dari ego wilayah.
Jika kita terus mempertahankan “negara saya dulu”, maka umat akan selamanya terpecah dalam kalender.
Padahal dunia sudah global:
Ekonomi global.
Teknologi global.
Komunikasi global.
Mengapa kalender Islam tidak berani menjadi global?
---
KHGT Bukan Milik Satu Ormas
Kalender Hijriah Global Tunggal bukan proyek satu organisasi.
Puluhan negara dan lembaga ilmiah internasional terlibat dalam diskusinya.
Ini bukan tentang siapa paling benar.
Ini tentang bagaimana umat bisa memiliki satu sistem waktu bersama.
---
Karena Persatuan Itu Ibadah
Allah berfirman agar kita berpegang pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.
Perpecahan dalam masalah ijtihadi memang tidak membatalkan ibadah.
Tetapi persatuan memberi kekuatan simbolik dan peradaban.
Ramadhan serentak bukan sekadar tanggal.
Ia adalah pesan bahwa umat ini bisa duduk bersama, berpikir bersama, dan memutuskan bersama.
Kalau dalam satu negara saja kita bisa menyatukan Aceh dan Papua,
mengapa dalam satu bumi kita masih ragu menyatukan umat?
Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan.
Tetapi berani naik ke tingkat yang lebih tinggi demi maslahat yang lebih besar.
Dan mungkin, kalender global adalah salah satu langkah kecil menuju persatuan besar umat Islam dunia.

Comments
No comments yet. Be the first to comment!