Oleh : Rudyspramz, MPI
Penutupan Safari Ramadan di Cabang Mojotengah menyisakan sebuah renungan dari 'sambutan Ketua PDM. Beliau menyampaikan bahwa saat ini banyak Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) yang sedang memiliki gawe besar: mendirikan sekolah baru atau mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang telah ada.
Sekilas, hal ini mungkin tampak sebagai sesuatu yang biasa. Hampir semua organisasi sosial dan keagamaan melakukan kerja-kerja serupa. Namun bagi Muhammadiyah, kerja membangun sekolah dan AUM bukan sekadar aktivitas organisatoris. Ia memiliki akar historis, ideologis, sekaligus teologis yang kuat. Di sanalah letak energi gerakan Muhammadiyah: semangat tajdid (pembaruan).
Sejarah mencatat bagaimana Kiai Ahmad Dahlan melakukan terobosan besar pada awal abad ke-20. Beliau mendirikan sekolah dengan model baru yang mengintegrasikan iman dan ilmu pengetahuan modern. Pada masa itu, langkah tersebut bukan sesuatu yang mudah. Sistem pendidikan Barat dipandang oleh sebagian kalangan sebagai produk “kafir” yang tidak layak diadopsi oleh umat Islam.
Akibatnya, Kiai Dahlan tidak jarang mendapat tudingan bahkan dianggap menyimpang dari tradisi keagamaan yang mapan. Namun beliau tidak bergeming. Sejarah kemudian membuktikan bahwa gagasan yang dulu dianggap kontroversial justru menjadi arus utama dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Di balik keberanian itu terdapat landasan teologis yang kuat. Dalam perspektif Muhammadiyah, persoalan tauhid tidak berhenti pada perdebatan teologis abstrak. Dalam sejarah pemikiran Islam klasik, diskursus ilmu kalam memang dipenuhi perdebatan panjang mengenai sifat-sifat Tuhan, takdir, kehendak bebas, maupun status pelaku dosa besar.
Perdebatan antara mazhab Asy’ariyah, Salafi, Mu’tazilah, Jabariyah, dan Qadariyah menunjukkan dinamika intelektual yang kaya, namun sering kali berujung pada fragmentasi umat. Misalnya dalam persoalan sifat Tuhan atau makna hadis tentang turunnya Allah pada sepertiga malam terakhir. Kaum Asy’ari cenderung melakukan takwil dengan menafsirkan “turun” sebagai turunnya rahmat Allah, sementara pendekatan Salafi memahaminya secara tekstual tanpa penafsiran.
Bagi Kiai Dahlan, perdebatan semacam itu tidak menjadi fokus utama gerakan. Tauhid harus kembali dimurnikan pada sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, namun sekaligus diterjemahkan dalam amal nyata yang menyelesaikan persoalan umat.
Karena itu, beliau lebih menekankan penghayatan terhadap surat-surat Al-Qur’an seperti Al-Ma’un dan Al-‘Ashr. Dari situlah lahir kesadaran bahwa iman sejati harus melahirkan amal shalih yang konkret dan berdampak sosial.
Dalam perkembangan berikutnya, para intelektual Muhammadiyah mengembangkan pemikiran ini menjadi berbagai konsep teologis yang khas, seperti Teologi Al-Ma’un, Teologi Al-‘Ashr, dan Teologi Amal Shalih. Teologi tidak lagi berhenti pada perdebatan metafisik, tetapi menjelma menjadi gerakan sosial yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan umat.
Dari sinilah lahir rumah sakit, sekolah, panti asuhan, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha lainnya. Semua itu bukan sekadar institusi sosial, tetapi manifestasi tauhid dalam kehidupan nyata.
Transformasi serupa juga terjadi dalam bidang fiqih. Jika fiqih klasik lebih banyak membahas hukum-hukum praktis seperti halal, haram, wajib, sunnah, makruh, dan mubah, maka Muhammadiyah mengembangkan pendekatan yang lebih kontekstual.
Lahir berbagai formulasi fiqih baru yang menjawab tantangan zaman: Fiqih Lingkungan Hidup, Fiqih Kebencanaan, Fiqih Informasi, Fiqih Anti-Korupsi, hingga Fiqih Kebhinekaan. Fiqih tidak lagi sekadar aturan ibadah individual, tetapi menjadi panduan etis bagi kehidupan sosial modern.
Di sinilah tajdid Muhammadiyah menemukan maknanya yang paling substantif: pembaruan pemikiran yang melahirkan amal nyata bagi kemajuan umat dan kemanusiaan.
Dengan demikian, setiap pembangunan sekolah Muhammadiyah, setiap pengembangan AUM, dan setiap gerakan sosial yang dilakukan oleh warga persyarikatan sesungguhnya bukan sekadar aktivitas organisasi. Ia adalah penjelmaan tauhid dalam tindakan, wujud dari iman yang bekerja dalam sejarah.
Inilah yang kemudian melahirkan gagasan besar Islam Berkemajuan—sebuah ikhtiar untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan moral, intelektual, dan peradaban yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus membangun masa depan umat manusia.
Wallahu a’lam.

Comments
No comments yet. Be the first to comment!