MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM — Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Wonosobo menggelar Sosialisasi Identifikasi, Pendaftaran, dan Digitalisasi Naskah Kuno Tahun 2026 di Aula Rapat Arpusda Wonosobo pada Senin (5/10/2026).
Langkah strategis ini diambil guna menyelamatkan warisan literasi serta rekam jejak sejarah peradaban daerah yang terancam lapuk dimakan usia.
Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan dinas/instansi terkait, pimpinan pondok pesantren, takmir masjid, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, tokoh lintas agama, akademisi, hingga komunitas pemerhati manuskrip kuno. Dari Muhammadiyah di wakili Ketua MPI, Rudi Pramono S.E.
Sinergi Menjaga Warisan Sakral
Sekretaris Dinas Arpusda Kabupaten Wonosobo, Tri Susilowati, menyampaikan bahwa sosialisasi ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam menjaga warisan leluhur. Apalagi, Kabupaten Wonosobo baru saja meraih Penghargaan Nasional Pengelolaan Naskah Kuno Terbaik pada Kamis (24/9/2026) lalu.
"Capaian penghargaan tingkat nasional tersebut bukan semata-mata kerja keras Dinas Perpustakaan dan Kearsipan saja, melainkan hasil sinergitas seluruh komponen di Wonosobo. Lembaga lintas sektor, akademisi, tokoh agama, budayawan, dan komunitas literasi telah berpadu memelihara manuskrip sejarah kita," ungkap Tri Susilowati saat membacakan sambutan.
Tri menegaskan, naskah kuno bukan sekadar tumpukan kertas tua berdebu, melainkan warisan sejarah yang membawa pesan spiritual dan nilai sakral. Salah satu contoh penting yakni naskah peninggalan ulama pejuang KH Ahmad Rifa'i, pendiri Rifa'iyah asal Kendal yang berdakwah kultural di Wonosobo hingga melahirkan ribuan santri penulisan kitab.
"Penghargaan ini bukanlah akhir, melainkan pengingat amanah moral yang luar biasa.
Melalui Peraturan Daerah (Perda) Wonosobo Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Alih Media Naskah Kuno, Pemerintah Daerah tidak akan mengambil fisik naskah dari pemiliknya, melainkan memelihara dan melakukan alih media digital agar jejak peradaban Wonosobo tetap menyala untuk generasi mendatang," tegasnya.
Tantangan Digitalisasi dan Potensi Manuskrip
Hadir sebagai narasumber, Ahmad Budi Wahyono, S.S dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah memaparkan pentingnya identifikasi dan pendaftaran naskah kuno sebagai bagian dari ingatan kolektif nasional. Ia menyoroti kekayaan manuskrip di Indonesia, seperti karya-karya pegon KH Ahmad Rifa'i yang mencapai 60 judul, hingga karya Kyai Sholeh Darat dan ratusan kitab di berbagai skriptorium pesantren.
Menurut Budi, manuskrip kuno menyimpan potensi kemanfaatan yang sangat luas di berbagai bidang kehidupan, antara lain:
Ilmu Agama & Sejarah: Sanad keilmuan fiqih yang jelas (seperti karya Ar-Raniri, Al-Jauhari, dan Mazhab Syafi'i).
Hukum & Ekonomi: Khazanah hukum kuno seperti Undang-Undang Malaka hingga fiqih muamalah/jual beli.
Kesehatan: Ramuan pengobatan tradisional dan resep herbal Nusantara.
Mitigasi Bencana: Catatan perbintangan (primbon) dan tradisi lisan/dendangan lokal sebagai penanda awal bencana alam seperti tsunami.
Meski demikian, pelestarian naskah kuno masih menghadapi tantangan berat, seperti keterbatasan tenaga ahli, pengerusakan fisik akibat usia, serta akses publik yang terbatas lantaran sebagian masyarakat masih mensakralkan naskah secara berlebihan.
"Kita berkejaran dengan waktu. Keterbukaan masyarakat untuk mendaftarkan dan mengizinkan alih media digital sangat diperlukan. Digitalisasi dan sinkronisasi antarlembaga menjadi kunci agar nilai-nilai luhur masa lalu dapat dipelajari dan dimanfaatkan secara luas tanpa merusak fisik naskah aslinya," jelas Budi.
Melalui forum diskusi ini, Arpusda Wonosobo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan penyelamatan ratusan naskah kuno sebagai gerakan kebudayaan bersama, sebagian ada yang diluar negeri
Kontributor/Editor : Rudyspramz
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!