OPINI 5 menit baca

Mungkin Allah Tidak Selalu Langsung Mengangkat Kesedihan, Tapi Mengeluarkan Kita Darinya Dengan Gerakan

Rudi Pramono 30 Juni 2026 65 views
Mungkin Allah Tidak Selalu Langsung Mengangkat Kesedihan, Tapi Mengeluarkan Kita Darinya Dengan Gerakan

Oleh : Ani Jumrotun, PRNA Serayu | PCNA Leksono

Baru sekarang aku mengerti, mungkin salah satu cara Allah mengajarkan empati adalah lewat pengalaman yang berbeda-beda.

Dulu aku pernah sangat yakin dengan satu nilai. Aku belajar bahwa perempuan sebaiknya banyak di rumah, mengurus rumah, berkhidmat kepada suami, menjaga keluarga, mengurus anak-anak sendiri tanpa pengasuh atau merepotkan orang tua, dan tidak bekerja di luar rumah. Aku begitu fanatik dengan persepsi ini.

Sampai suatu hari aku mengambil keputusan yang menurutku paling benar saat itu, yaitu mengundurkan diri dari pekerjaanku dan tentu dengan merasa sedang mengamalkan ilmu yang kupelajari serta niat yang lurus karena ingin taat kepada Allah.

Namun sayangnya, diam-diam aku memandang heran pada orang lain, lebih-lebih yang belajar hal yang sama tetapi memilih tetap bekerja di luar rumah atau tidak mengamalkan ilmunya, dengan anak dititipkan kepada orang tuanya.

Dalam hati aku berprasangka :
Kalau ilmunya sama, kenapa tidak diamalkan dengan cara yang sama?

Apakah tidak sayang anak mereka dialihkan pengasuhannya kepada orang yang sayangnya tentu tidak lebih besar dari kita? (jika dititipkannya kepada orang lain) dan jika dititipkannya kepada orang tua? apakah tidak merasa berdosa membuat orang tua kerepotan mengurus cucu-cucunya? Waktu yang seharusnya sudah  lebih banyak untuk beribadah, fokus belajar atau mengkaji ilmu agama, bersama cucu harusnya bisa dinikmati sebagai kebersamaan mengisi kerinduan, eh malah menjadi kesibukan yang sama saat dulu mengurus anaknya, tidak berhenti masa tuanya gantian mengurus cucunya.

Itu satu-satunya persepsi idealku saat itu, dan Aku tidak mengatakannya keras-keras, namun meski begitu sekarang aku sadar bahwa aku telah menghakimi seseorang dengan melihat hidup orang lain dengan ukuran hidupku sendiri.

Dan hari ini aku tahu lebih luas, ternyata seorang nenek atau kakek bisa menyayangi cucunya lebih dari pada kita sebagai orang tuanya, dan banyak juga yang dengan sukarela mengasuh bahkan berkorban untuk terus berada di dekat cucunya.

Lalu waktu berlalu, Allah mempertemukanku dengan fase hidup yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, yaitu aku mengalami masa ketika menjaga hati tetap waras saat hanya berada di dalam rumah itu menjadi perjuangan yang tidak sederhana.

Ada masa ketika pikiran terlalu ramai, hati terlalu lelah, dan hari-hari terasa berat dijalani, dan di masa itu aku belajar sesuatu yang baru, bahwa terkadang kesedihan tidak selalu selesai dengan dipikirkan, kegelisahan tidak selalu reda dengan dipeluk sendirian, ada kalanya hati justru mulai ditolong ketika melakukan pergerakan.

Aku mulai mencari kegiatan baru, bukan sesuatu yang besar, hanya hal-hal kecil yang bisa kulakukan secara konsisten. Keluar rumah, jalan-jalan bahkan hanya sekedar jajan, lebih-lebih ada kesempatan bisa mengajar, belajar, kembali berorganisasi, menyusun hari, bertemu orang, menulis ringan, membaca beberapa ayat, membaca buku, menyelesaikan tugas kecil, berlatih mengerjakan pekerjaan sehari-hari dirumah dengan makna, berusaha tetap berguna, dan perlahan aku menyadari kegiatan itu bukan pelarian, melainkan salah satu cara Allah menolongku keluar dari kesedihan.

Aku teringat kisah Maryam. Sebagian ulama menjelaskan betapa indahnya ketika Maryam diperintahkan menggoyangkan pohon kurma, padahal Allah Mahakuasa memberi buah itu tanpa gerakan apa pun. Namun Maryam tetap diminta bergerak, seakan ada pelajaran lembut di sana, bahwa ketika hati sedang berat, jangan biarkan diri tenggelam seluruhnya dalam kesedihan. Lakukan sesuatu, isi tangan dengan amal, walau kecil, walau sederhana, walau hanya satu langkah.

Kemudian aku merasa telah belajar sesuatu, tapi ternyata pelajarannya belum selesai!!

Dan tibalah aku di fase berikutnya, posisi dimana aku mengalami dari sudut pandang yang berbeda. Kali ini bukan aku yang sulit memahami, justru akhirnya aku mengalami juga dihakimi.

Ada orang yang menilai pilihanku bekerja di luar rumah dari sudut pandang yang mereka yakini. Mereka mengira apa yang terlihat dari luar adalah seluruh cerita dan kebenaran persepsinya, dan saat itu rasanya memang tidak mudah.

Perjalanan hidup kembali berlalu, dan memasuki fase berikutnya lagi, yaitu suatu kejadian yang dialami orang lain dan membuatku terdiam.

Orang yang dulu begitu yakin dengan cara pandangnya menghakimiku, ternyata juga dipertemukan Allah dengan pengalaman yang memperluas hatinya. Mereka mengalami apa yang kualami saat itu, merasakan bahwa bekerja di luar rumah tidak selalu karena mengikuti hawa nafsu, namun bisa juga menjadi jalan untuk menolong jiwanya.

Bukan dihukum, bukan pula dibalas, hanya dipahamkan.

Saat itu aku teringat diriku sendiri, bukankah aku juga pernah seperti itu? Maka sekarang aku percaya, tidak semua orang yang berbeda dengan kita sedang salah jalan, tidak semua orang yang mengambil jalan berbeda sedang kurang iman, dan tidak semua orang yang terlihat kuat sedang baik-baik saja.

Kadang seseorang tetap waras karena tinggal di rumah.

Kadang seseorang tetap waras juga karena punya ruang untuk bergerak di luar rumah.

Allah menguji setiap hamba dengan kemampuan dan cerita yang berbeda.

Hari ini aku tidak ingin menang dalam perdebatan tentang siapa yang paling benar. Aku hanya berharap, sebelum menilai seseorang, mungkin kita perlu bertanya : cerita apa yang belum kita dengar darinya?

Karena sering kali pekerjaan kecil yang dilakukan di tengah luka adalah pintu yang Allah bukakan untuk menenangkan jiwa, dan boleh jadi, ketenangan yang sedang kita cari, Allah selipkan di sana.

Sebagai wanita, fokus menjalankan peran sebagai istri, ibu, sekaligus anak atau menantu di rumah itu luar biasa mulia, namun menambahnya dengan pekerjaan lain di luar rumah juga bukan cela.

Bukankah Allah tidak pernah membeda-bedakan siapapun yang beramal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan (An Nahl : 97, Ali Imron : 195)

Yang hina adalah memandang rendah dan menyalahkan orang lain yang tidak sama jalannya dengan kita. Justru ini bukanlah wujud manifestasi dari iman.

Seperti orang yang mendaki gunung, ada yang melalui jalur landai karena membawa serta anaknya, ada juga yang melalui jalur terjal karena suka tantangan, ada yang berjalan santai, ada juga yang bergegas karena ingin cepat sampai puncaknya. Semuanya berbeda jalan namun tujuannya sama.

Kita tidak bisa menyalahkan yang lain hanya karena berbeda jalan. Lebih-lebih sesama perempuan, dari kita ada yang bisa bertumbuh karena punya banyak waktu di rumah, ada juga yang justru bertumbuh dan lebih sehat jiwanya saat bergerak di luar rumah.

Yang perlu ditanamkan menjadi kesadaran adalah bagaimana kita bisa berlatih untuk memahami keadaan orang lain, tidak mudah menghakimi yang berbeda jalan, dan semoga cara Allah meluaskan hati kita adalah dengan kelembutan penuh hikmah bukan atas hukuman sarat jera, meski hukuman juga seringkali adalah bentuk dari kasih sayang-Nya.

Wal'afwaminkum 🙏🙏

Sahabatmu, yang pernah lama terjebak dalam lubang gelap dengan setitik cahaya, namun Allah mudahkan keluar darinya dari hidayah pergerakan.

Bergerak ini hanya bagian kecil atau salah satu dari sekian banyak cara seseorang terlepas dari jeratan kesedihannya.

Wallahua'lam ❤️

Sebelumnya Sabet Penghargaan Prestisius ! PDNA Wonosobo Berjaya di Pang...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar