KABAR 3 menit baca

Menjaga Ruh Dakwah dari Akar Rumput: Pengajian Ahad Kliwon PCM Kaliwiro Terapkan Pendekatan Community-Based Development

Rudi Pramono 26 Oktober 2026 35 views

​MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM — Suasana khidmat dan hangat menyelimuti Balai Pengajian Ranting Muhammadiyah (PRM) Kepaksan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, pada Ahad (25/10/2026).

Ratusan warga Muhammadiyah dari berbagai desa berkumpul menghadiri agenda rutin Pengajian Ahad Kliwon—kegiatan keagamaan ikonik yang populer dikenal warga setempat sebagai Hari Bermuhammadiyah PCM Kaliwiro.  
​Pengajian periodik ini menghadirkan pembicara utama Ustadz Qosdan Dawami, M.Sc. dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonosobo.

Dalam tausiahnya, ustd. Qasdan mengupas tuntas pilar-pilar penting ajaran Islam yang berfokus pada pemaknaan Khair (kebaikan universal), Ma'ruf (kebajikan yang diakui bersama), dan Ikhsan (kesempurnaan beribadah dan berbuat baik).  

​Sementara itu, Ketua PCM Kaliwiro, Ustadz Setyo Budi, S.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya kedisiplinan dan komitmen anggota dalam menjalankan kebijakan persyarikatan.

Setyo secara khusus menyoroti tertib administrasi melalui kepemilikan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah Elektronik (E-KTAM) serta konsistensi berorganisasi demi menjaga soliditas gerakan di tingkat akar rumput.  

​Community-Based Development: Nafas Dakwah Sejak 1965

Pengajian Ahad Kliwon di Kaliwiro bukan sekadar agenda rutin biasa. Meminjam istilah yang kerap disampaikan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu'ti, tradisi pengajian ini merupakan wujud nyata dari Community-Based Development (CBD) atau Community-Based Movement (Gerakan Berbasis Komunitas).  

Rekam jejak tradisi ini telah berlangsung sangat panjang, yakni sejak tahun 1965, berawal dari masuknya dakwah Muhammadiyah di kawasan Selomanik yang kemudian berkembang menjadi pusat pergerakan di Cabang Kaliwiro. Selama lebih dari enam dekade, pengajian komunitas inilah yang menjadi tiang pengibar bendera persyarikatan dan penggerak utama setiap langkah dakwah Muhammadiyah di Kaliwiro.  

​Dakwah berbasis komunitas terbukti memiliki ketahanan (resilience) yang awet, luwes, serta konsisten terhadap dinamika zaman.

Prinsip yang dipegang teguh oleh warga PCM Kaliwiro adalah: "Selama pengajian masih berjalan, maka Muhammadiyah akan terus hidup." Sebab, pengajian merupakan ruh utama dakwah; tanpa pengajian, persyarikatan hanya akan menjadi cangkang organisasi yang kehilangan pemahaman agama yang mendalam.
 
​Menyeimbangkan  CBD dan Amal Usaha-Based Development (ABD)

​Dalam iklim persyarikatan saat ini, terdapat kecenderungan bahwa alokasi sumber daya dan energi organisasi lebih banyak dicurahkan pada pendekatan Amal Usaha-Based Development (ABD)—seperti pendirian sekolah, rumah sakit, dan lembaga fisik lainnya.

Kendati ABD penting untuk stabilitas finansial dan legalitas, kebergantungan berlebih pada modal institusional berisiko membuat gerakan terasa kaku atau berjarak dari masyarakat.  

​Untuk memahami dinamika pergerakan ini, kedua pendekatan memiliki karakter dan tantangannya masing-masing:

​Sifat Pendekatan: Pendekatan CBD bersifat bottom-up atau tumbuh secara organik dari kemasyarakatan.

Sebaliknya, ABD lebih bersifat top-down dan terstruktur secara institusional.  

​Aktor Utama: Gerakan CBD digerakkan oleh tokoh lokal serta kelompok masyarakat setempat. Sedangkan ABD dikelola oleh pengurus yayasan, manajer, dan tenaga profesional.  

​Sumber Daya: Pendekatan CBD mengandalkan swadaya lokal dan modal sosial (social capital).

Sementara ABD bertumpu pada aset lembaga, wakaf, dana filantropi, serta profit internal organisasi.  

​Keunggulan: Keunggulan utama CBD terletak pada kedekatan emosional dan partisipasi murni dari warga. Adapun ABD unggul dalam hal stabilitas finansial dan manajemen yang profesional.  

​Tantangan: CBD dihadapkan pada tantangan keberlanjutan dana dan kerapuhan kelembagaan. Di sisi lain, ABD menghadapi risiko komersialisasi dan birokratisasi.  

​Mengawinkan Dua Pilar Dakwah

​Meskipun memiliki perbedaan karakter, pendekatan CBD dan ABD sejatinya tidak untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi. Model dakwah terbaik yang dinantikan adalah mengawinkan kedua pilar tersebut: Amal usaha menyediakan sarana dan kepastian legal, sementara gerakan berbasis komunitas menyuntikkan ruh partisipasi, keadilan sosial, dan rasa memiliki dari warga.  

Pengajian Ahad Kliwon di PRM Kepaksan Cabang Kaliwiro menjadi bukti hidup bahwa ketika dakwah di tingkat akar rumput dirawat dengan konsisten, Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai institusi, tetapi tumbuh mengakar dan memberikan kemanfaatan nyata di tengah-tengah masyarakat.  

Kontributor : Zudi
Editor : Rudyspramz

Sebelumnya Pakar Halal Dunia Prof. Irwandi Jaswir Pantau Hilirisasi Ris... Selanjutnya Shalat Berjamaah : Antara Kewajiban, Anjuran, dan Uzur yang...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar