KABAR 3 menit baca

Mengungkit Potensi Wonosobo Menuju Panggung Global: Antara Aksesibilitas, Sains, dan Transformasi Ekonomi

Rudi Pramono 10 September 2026 42 views

MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM — Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonosobo menggelar diskusi publik bertajuk "Ngangkring Bareng Buya Anwar Abbas: Mengungkit Potensi Wonosobo Menuju Persaingan Global" pada Jumat, 4 September 2026, bertempat di Teras Cemara Kantor PDM Wonosobo.

​Acara ini menghadirkan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Anwar Abbas, M.M., M.Ag., Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo Fahmi Hidayat, S.I.P., M.P.P., serta Ketua PDM Wonosobo Drs. H. Bambang Wen, M.M.

Diskusi ini menyoroti strategi konkret dalam merespons tantangan geografis dan akselerasi ekonomi daerah.

'​Pariwisata sebagai Lokomotif dan Tantangan Aksesibilitas

​Ketua PDM Wonosobo, Drs. H. Bambang Wen, M.M., menegaskan dalam sambutannya bahwa Wonosobo memiliki modal besar untuk menembus pasar global, terutama melalui sektor pariwisata seperti Kawasan Strategis Dieng. Namun, keunggulan tersebut berhadapan langsung dengan hambatan mobilitas dan kapasitas infrastruktur.

​"Pariwisata menjadi lokomotif utama, tetapi kita diperhadapkan pada masalah kemacetan lalu lintas yang mengganggu aksesibilitas. Pertumbuhan pariwisata tidak akan optimal tanpa penataan jalur dan solusi konkret agar hasilnya benar-benar memakmurkan masyarakat," ujar Bambang Wen.

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, S.I.P., M.P.P., memaparkan fakta lapangan terkait karakter pola kunjungan wisatawan yang masih bersifat transitif (hit & run).
​Kombinasi antara kemacetan lalu lintas pada jalur-jalur utama menuju objek wisata serta keterbatasan fasilitas pendukung di tengah ketidakpastian cuaca menyebabkan wisatawan enggan tinggal lebih lama (stay duration rendah). Akibatnya, dampak perputaran ekonomi bagi UMKM lokal belum dapat terkapitalisasi secara maksimal.

​'Pembangunan Berbasis Sains dan "Crack Theory" Habibie

​Menjawab persoalan tersebut, Prof. Dr. KH. Anwar Abbas, M.M., M.Ag. menegaskan bahwa Wonosobo tidak boleh terjebak pada janji politik atau teori normatif semata. Pembangunan daerah harus mengadopsi pendekatan ilmu pengetahuan (science-based policy) yang presisi dan berbasis data.

​Buya Anwar membandingkan keterbatasan wilayah Wonosobo dengan keberhasilan negara-negara industri maju seperti Taiwan dan China yang mampu melompati keterbatasan fisik melalui penguasaan sains dan teknologi.

Dalam paparan Buya secara khusus menyinggung penerapan "Crack Theory" yang digagas oleh B.J. Habibie.
​"Habibie tidak perlu merakit seluruh struktur fisik pesawat, melainkan menemukan formula matematis presisi untuk mendeteksi dan mencegah keretakan titik stres pada sayap pesawat.

Wonosobo membutuhkan 'formula ilmiah' serupa dalam kebijakan publik agar potensi ekonominya tidak 'patah' saat berbenturan dengan masalah nyata seperti kemacetan dan keterbatasan lahan," tegas Anwar Abbas.

​Ia juga menyoroti dua keterbatasan struktur fisik yang dihadapi Wonosobo saat ini:

'​Sektor Pertanian: Lahan terfragmentasi dan didominasi oleh petani gurem dengan skala kepemilikan tanah yang sempit.

​'Sektor Industri: Keterbatasan tata ruang manufaktur besar menjadikan perekonomian sangat bergantung pada ketahanan UMKM.

'​Transformasi Kuadran SDM dan Kemandirian Ekonomi

​Selain penataan ruang dan kebijakan ilmiah, diskusi ini menyoroti pentingnya reformasi modal manusia (human capital). Menurut Buya Anwar, kapasitas intelektual masyarakat dan kader organisasi tergolong tinggi, namun masih ada jurang pemisah (gap) dalam penerapannya di sektor ekonomi praktis.

​Buya mendorong terjadinya transformasi kuadran profesi, di mana sumber daya manusia (SDM) daerah harus digeser dari dominasi status pekerja (employee) menuju pemikir usaha (business owner) dan penanam modal (investor).

'​Prinsip Dasar Man Jadda Wajada

Kesungguhan nyata dinilai menjadi kunci utama dalam memindahkan konsep theoretical ke dalam aksi nyata yang terukur. Melalui eksekusi berbasis data, presisi ilmu, dan keberanian bertindak, keterbatasan geografis Wonosobo diproyeksikan dapat teratasi demi mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan.

Kontributor : Yulia
Editor : Rudyspramz

Sebelumnya Tempuh 1.800 KM Jalur Darat-Laut, LRB-MDMC Jateng Kirim 10 P...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar