MUHAMMADIYAH.WONOSOBO.COM -Ketika dunia semakin cemas menghadapi perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ancaman krisis energi, ‘Aisyiyah memilih tidak sekadar menyuarakan kepedulian. Dari Kalimantan Timur, organisasi perempuan Islam berkemajuan itu menyalakan Gerakan 1000 Cahaya Aisyiyah sebagai ikhtiar membangun kesadaran lingkungan sejak sekolah, keluarga, hingga masyarakat. Gerakan ini mendapat dukungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti serta Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan peduli terhadap masa depan bumi.
Peluncuran Gerakan 1000 Cahaya Aisyiyah, Program Sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), serta aksi penanaman 2.026 bibit mangrove digelar di SMAN 8 Balikpapan, Jumat (5/6/2026), bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan rangkaian Milad ke-109 Aisyiyah. Kegiatan ini merupakan yang pertama di Indonesia yang diinisiasi oleh Pimpinan ‘Aisyiyah Kalimantan Timur, sekaligus menjadi simbol kolaborasi antara dunia pendidikan, organisasi masyarakat, pemerintah, dan komunitas lingkungan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Abdul Mu'ti, M.Ed., Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Anggota DPR RI Syarifah Suraidah, serta jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Kalimantan Timur.
Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Kalimantan Timur Hj. Nurhayati Tappa, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Ketika kita melihat hari ini bumi sedang menangis, Islam menjawab hal itu dengan sangat luar biasa. Barang siapa seorang muslim menanam pohon ataupun tanaman lalu dimanfaatkan oleh manusia, hewan, maupun burung, maka itu menjadi sedekah baginya. Inilah bagian kita bagaimana mengelola bumi dengan sebaik-baiknya dan menghadirkan kemanfaatan bagi seluruh alam,” ujarnya.
Menurut Nurhayati, gerakan lingkungan yang diinisiasi Aisyiyah bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya menghadirkan peradaban yang lebih berkelanjutan. Ia menyebut kader-kader Aisyiyah sebagai “lilin-lilin kehidupan” yang mampu menghadirkan manfaat dan harapan bagi masyarakat serta lingkungan.
Mencetak Agen Perubahan dari Sekolah dan Keluarga*
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Aisyiyah yang dinilainya mampu menjawab tantangan zaman melalui pendekatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Menurut Hetifah, dunia saat ini menghadapi krisis lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mulai dari perubahan iklim hingga degradasi ekosistem yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
“Apa yang dilakukan Aisyiyah hari ini adalah contoh baik. Saat ini kita menghadapi tantangan berat berupa perubahan iklim dan degradasi ekosistem yang belum pernah dialami sedahsyat ini pada era-era sebelumnya. Melalui kader lingkungan 1000 Cahaya Aisyiyah, kita sedang mencetak agen perubahan yang akan menggerakkan kesadaran gaya hidup berkelanjutan,” kata Hetifah.
Ia menambahkan, Program Sekolah ASRI yang diluncurkan bersamaan dengan Gerakan 1000 Cahaya Aisyiyah dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia. Sekolah, menurutnya, tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan kecerdasan ekologis.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman, sehat, ramah lingkungan, sekaligus membentuk kebiasaan baik bagi anak-anak. Apa yang dilakukan SMAN 8 Balikpapan dan Aisyiyah hari ini layak menjadi teladan bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia,” ujarnya.
Komitmen yang sama disampaikan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud. Ia menilai penanaman mangrove dan Gerakan Sekolah ASRI memiliki makna strategis bagi masa depan Kalimantan Timur yang kaya sumber daya alam namun tetap harus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Gerakan Sekolah ASRI merupakan langkah yang sangat baik untuk menanamkan budaya cinta lingkungan sejak dini. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kecerdasan ekologis dan tanggung jawab sosial,” kata Rudy.
Menurutnya, mangrove memiliki fungsi penting dalam menyerap karbon, melindungi kawasan pesisir dari abrasi, sekaligus menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni semata. Penanaman mangrove harus menjadi gerakan nyata yang terus tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” tegasnya.
Menyalakan Cahaya untuk Masa Depan Bumi
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan bahwa Gerakan 1000 Cahaya Aisyiyah merupakan langkah penting dalam menjawab tantangan krisis energi dan perubahan iklim yang kini menjadi perhatian dunia.
Menurut Abdul Mu'ti, pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus melahirkan generasi yang memiliki kesadaran ekologis dan mampu menghadirkan solusi bagi persoalan kemanusiaan.
“Gerakan Seribu Cahaya adalah gerakan di mana kita berusaha menghemat energi dan menggunakan energi yang ramah lingkungan, termasuk penggunaan energi matahari. Gerakan ini hadir untuk menjawab persoalan krisis energi, perubahan iklim, dan pemanasan global yang mengancam keberlangsungan kehidupan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk mengembangkan budaya hidup berkelanjutan melalui pendidikan, keluarga, dan komunitas.
Abdul Mu'ti juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini.
“Slogannya sangat indah, jika sekitarmu gelap, engkaulah yang menyalakan terang bagi sekitarmu. Inilah prinsip gerakan berkemajuan, gerakan yang memberikan solusi atas berbagai macam permasalahan yang kita hadapi,” katanya.
Melalui Gerakan 1000 Cahaya Aisyiyah, Program Sekolah ASRI, dan aksi penanaman 2.026 mangrove, Kalimantan Timur tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Dari sekolah, keluarga, dan komunitas, Aisyiyah berupaya menyalakan cahaya perubahan. Ini merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga bumi, memperkuat ketahanan generasi, dan mewariskan masa depan yang lebih lestari bagi Indonesia.
Tentang 1000 Cahaya
Gerakan 1000 Cahaya Muhammadiyah merupakan inisiatif strategis Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah yang diluncurkan pada Mei 2024 untuk mendorong transisi energi bersih dan penyelamatan lingkungan. Program ini menjadi bagian dari Green Movement Muhammadiyah yang diwujudkan melalui edukasi, implementasi, dan kolaborasi di tingkat akar rumput. Gerakan ini bertumpu pada empat pilar utama, yakni Green Masjid, Green Pesantren dan Green Sekolah, Green Ranting, serta Green Hero. Melalui sinergi dengan berbagai organisasi otonom, termasuk Aisyiyah, Gerakan 1000 Cahaya berupaya membangun kesadaran kolektif tentang energi berkelanjutan, keadilan iklim, dan gaya hidup ramah lingkungan di masyarakat.
Sukowati Utami (Pimpred-Hukamanews), Narahubung : Intan Mustikasari
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!