Home > Article > Category > OPINI

Ketika Amanah Lebih Berat daripada Jabatan

Ketika Amanah Lebih Berat daripada Jabatan

Oleh : Rudyspramz, MPI

Di Muhammadiyah, kepemimpinan tidak lahir dari ambisi, melainkan dari kesadaran. Tidak ada sorak kemenangan bagi suara terbanyak, tidak pula euforia perebutan jabatan. Yang ada justru keheningan batin, saling mempersilakan, dan rasa enggan, bukan karena takut memimpin, tetapi karena paham betul bahwa kepemimpinan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah.

Bagi banyak orang luar, ini tampak aneh. Di saat jabatan sering diperebutkan karena privilege dan kekuasaan, Muhammadiyah justru menempatkan jabatan sebagai beban perjuangan. Elit di Muhammadiyah bukan mereka yang ingin dilayani, melainkan yang siap melayani. Bukan mereka yang mencari keuntungan, tetapi yang bersedia berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta.

Kultur ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari atmosfer keagamaan yang mendalam, dari dakwah pembaruan yang membentuk elite agama, dan dari amal usaha yang melahirkan elite sosial. Elit Muhammadiyah adalah elit pejuang, aktivis yang bekerja dalam senyap, kader yang menyalakan cahaya tanpa menuntut sorotan.

Di dalamnya, ada spiritualitas yang mengakar, intelektualitas yang mencerahkan, dan emosionalitas yang menguatkan ikatan. Tiga energi ini menjadi denyut gerakan, menjaga Muhammadiyah tetap hidup, meski zaman berubah dan tantangan kian kompleks.

Mungkin benar, jumlah keanggotaan menurun. Namun jangan buru-buru berkecil hati. Anggaplah ini sebagai cermin sekaligus pemantik. Pertanyaan terpenting bukan sekadar “berapa jumlah kita,” tetapi “sejauh mana nilai itu terasa.” Karena sesungguhnya, Muhammadiyah memiliki modal besar: nilai, keteladanan, dan kerja nyata.

Tugas kita hari ini bukan mengubah jati diri, melainkan menarasikan kembali ruh perjuangan agar lebih membumi, lebih inklusif, dan lebih menyentuh semua kalangan. Ketika amanah tetap dijaga, ketika pengorbanan tetap dimuliakan, dan ketika nilai terus dihidupkan Muhammadiyah akan selalu relevan, menarik, dan dibutuhkan.

Dan dari sanalah, harapan itu tumbuh. 

wallahu a'lam

Comments

BRAVO MUHAMMADIYAH.... Bahagia menjadi bagian dariMU...

Apik Mas, terus berkarya, tebarkan info yg mencerahkan dan membumikan Muhammadiyah

Leave a Reply