Home > Article > Category > FATWA / MAKLUMAT

Jelang Ramadhan, Pahami Hukum Nisfu Syaban Menurut Tarjih Muhammadiyah

Jelang Ramadhan, Pahami Hukum Nisfu Syaban Menurut Tarjih Muhammadiyah

Oleh:
Drs. Nurbini Amat, M.S.I.
Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Bulan Sya’ban adalah gerbang menuju bulan suci. Namun, banyak umat yang masih bingung mengenai hukum Nisfu Syaban menurut Tarjih Muhammadiyah. Simak penjelasan lengkapnya agar ibadah kita sesuai tuntunan.

Kebingungan ini sering muncul karena tradisi di masyarakat. Kita kerap melihat berbagai ritual khusus pada malam pertengahan Sya’ban. Sebagian umat menggelar shalat berjamaah dengan cara tertentu. Sebagian lagi melakukan doa bersama dengan bacaan khusus. Fenomena ini tentu memantik rasa ingin tahu warga persyarikatan. Apakah tradisi ini memiliki landasan kuat atau sekadar kebiasaan semata?

Analisis Hadis dan Sikap Tarjih

Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah selalu berhati-hati dalam menetapkan hukum ibadah. Mereka menempatkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai fondasi utama. Tim Tarjih telah menelusuri berbagai dalil terkait masalah ini secara mendalam.

Hasilnya cukup jelas. Tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang memerintahkan pengkhususan amal pada malam tersebut. Memang, ada sejumlah riwayat tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Namun, para ahli hadis menilai mayoritas hadis Nisfu Syaban tersebut berkualitas dha‘if (lemah). Bahkan, sebagian riwayat terindikasi palsu.

Muhammadiyah memegang prinsip bahwa hadis lemah tidak bisa menjadi landasan ibadah mahdhah. Oleh karena itu, hukum Nisfu Syaban menurut Tarjih Muhammadiyah menegaskan tidak adanya syariat ibadah khusus di malam itu. Menyandarkan ritual pada dalil lemah tentu berisiko mencederai kemurnian ajaran Islam.

Membedakan Bid’ah dan Sunah pada Nisfu Sya’ban

Muhammadiyah mengajak umat untuk jeli membedakan antara bid’ah dan sunah. Berdasarkan kajian di atas, Majelis Tarjih merumuskan tiga poin penting:

1. Tidak Ada Ritual Khusus: Islam tidak menyariatkan ibadah spesifik pada malam Nisfu Sya’ban. Hal ini mencakup shalat dengan jumlah rakaat tertentu atau doa dengan redaksi baku.

2. Batasan Bid’ah: Mengkhususkan waktu dan tata cara ibadah tanpa dalil sahih masuk kategori bid‘ah. Perbuatan ini menambah aturan ibadah yang tidak Rasulullah ﷺ contohkan.

3. Amalan Umum Tetap Boleh: Muhammadiyah tidak melarang umat beribadah di malam tersebut secara mutlak. Anda tetap boleh shalat malam atau membaca Al-Qur’an. Syaratnya, lakukanlah sebagai amalan harian biasa tanpa meyakini adanya keutamaan khusus.

Jadi, Muhammadiyah tidak menolak ibadahnya. Tarjih hanya meluruskan keyakinan tentang waktu dan tata cara yang tidak berdasar.

Amalan Bulan Sya’ban dan Persiapan Ramadhan

Kita sebaiknya tidak terpaku pada satu malam saja. Pandangan Muhammadiyah justru lebih luas. Amalan bulan Sya’ban yang paling utama adalah memperbanyak puasa sunnah. Rasulullah ﷺ mencontohkan hal ini dalam berbagai hadis sahih. Beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban melebihi bulan lainnya selain Ramadhan.

Jadi, momentum Sya’ban sejatinya adalah masa persiapan Ramadhan. Tarjih menyarankan umat Islam untuk melakukan langkah-langkah produktif berikut:

1. Perbaiki Shalat: Tingkatkan kekhusyukan shalat wajib dan sunnah.

2. Rutin Puasa Sunah: Latih fisik dengan puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh.

3. Akrabkan Diri dengan Al-Qur’an: Perbanyak tadarus agar lisan terbiasa.

4. Bersihkan Hati: Perbanyak taubat dan istighfar kepada Allah.

Selanjutnya, semua kegiatan ini harus berjalan terus-menerus (istiqamah). Jangan sampai kita rajin ibadah hanya dalam satu malam, lalu semangatnya padam kemudian.

Sikap Bijak dalam Beragama

Warga Muhammadiyah perlu mengedepankan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan sosial. Tradisi Nisfu Sya’ban di masyarakat sering kali berawal dari niat baik. Namun, niat baik saja belum cukup. Kita harus menyempurnakannya dengan cara yang benar (ittiba’).

Peganglah teguh hukum Nisfu Syaban menurut Tarjih Muhammadiyah sebagai panduan akidah. Namun, sampaikan pencerahan ini dengan santun. Jangan mudah memvonis sesat saudara seiman. Jaga terus ukhuwah Islamiyah.

Kesimpulannya, Nisfu Sya’ban bukanlah malam keramat dengan ritual seremonial. Jadikanlah seluruh bulan Sya’ban sebagai ladang amal yang otentik. Mari kita songsong Ramadhan dengan ilmu dan kesiapan iman yang matang.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb

Comments

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Reply