Penulis : Dahono Prasetyo - Litbang Demokrasi
Tidak banyak yang tahu ternyata Indonesia adalah negara penghasil nikel terbesar di dunia. Pada tahun 2023, Indonesia menghasilkan 1,8 juta metrik ton nikel atau sekitar 50 persen suplai nikel dunia.
Sebagai pemilik sumber Daya Alam (SDA) Nikel terbesar di seluruh jagat tidak lantas membuat Indonesia sejahtera penghuninya. Bahkan tidak juga dengan masyarakat yang hidup di wilayah pertambangan.
Narasi yang dibangun pemerintah saat menyerahkan pengelolaannya kepada pihak asing lebih bersifat jangka panjang. Transfer teknologi pengolahan dari negara pengelola konsesi dijanjikan beberapa tahun kemudian.
Celakanya kontrak pengerukan SDA oleh negara lain baru selesai pada 2069. Artinya secepat apapun selesai belajar teknologi pengolahan, tetap baru diizinkan mengolah sendiri 44 tahun kemudian.
Hasil penelitian dari dirjen Minerba mengungkap fakta yang berseberangan dengan kontrak pengelolaan. Cadangan Nikel Indonesia diperkirakan habis pada tahun 2050. Atau bisa habis 2035 jika pengerukan dilakukan secara brutal.
Pemerintah pada era penandatangan kontrak asing lebih berorientasi bisnis ketimbang berbagi kemakmuran. Halusinasi bahwa kita bisa mengelolanya sendiri kelak menjadi fatwa yang dilindungi undang-undang.
*Apa yang mau diolah saat yang tersisa tinggal kerusakan alam?*
Begitulah saat politikus berbisnis dengan mengumbar janji. Pemimpin dengan visi brilian untuk anak cucu kelak, namun justru terkejut ketika rakyat mempercayainya.
Berbicara bisnis SDA di era perdagangan bebas, otomatis juga bicara tentang bisnis kekuasaan. Investor tidak segan membiayai suksesi kepemimpinan suatu negara demi kelangsungan persekongkolan dagang.
Sumbangan dana kampanye Rp10 triliun rasanya tidak seberapa demi untuk mendapatkan keuntungan 1000 triliun hasil uji konsesi Nikel. “Citarasa” Pemimpin tiap masa tak pernah sama, setelah 32 tahun beraroma emas Freeport, hingga aroma batubara kental berasa saat 2 periode Mr. Mangkrak.
Seolah tak mau kalah, penggantinya 10 tahun aroma migas begitu menyengat. Hingga aroma Nikel menjadi citarasa pemimpin selanjutnya yang dipilih 58% suara.
Bahwa rusaknya tatanan negara selalu diawali dari sakitnya kejiwaan para politikusnya. Mereka yang gemar berambisi tidak akan pernah adil sejak dalam pikiran.
Kenyataan pahit yang mesti ditelan rakyat bahwa sumber daya alam yang mestinya dipergunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat justru menjadi ladang kesejahteraan rakyat negara lain. Rakyat justru diperah menjadi sumber pemasukan negara oleh pungutan pajak.
Sementara pahit itu kita telan , negara yang harusnya dikelola dengan harga mati *"good governance"* dimana korupsi tak diberi ruang nyaman untuk berekspresi, namun yang terjadi, kita semua tahu, korupsi hadir bukan seperti hujan, bahkan seperti badai yang ujungnya dapat meluluhlantakkan negara ini.
Duuh... Astaghfirullahaladzim.

Comments
No comments yet. Be the first to comment!