Oleh : Rudyspramz, MPI.
Sejarah dunia memperlihatkan bahwa hubungan antarnegara maupun antar kelompok manusia tidak selalu ditentukan oleh kesamaan nilai, ideologi, atau bahkan agama. Yang sering kali menjadi faktor penentu justru adalah kepentingan. Dalam berbagai peristiwa geopolitik, aliansi dapat terbentuk dan berubah dengan cepat ketika kepentingan politik, ekonomi, atau kekuasaan bergeser.
Salah satu contoh yang kerap disebut dalam dinamika politik global adalah hubungan antara Iran dan United States pada masa konflik dengan Iraq pada era tertentu, sekarang berperang melawan AS dan banyak lagi.
Pada fase tertentu dalam sejarah, kepentingan strategis membuat pihak-pihak yang sebelumnya berjarak dapat berada dalam posisi yang sama. Namun pada fase lain, hubungan tersebut berubah menjadi konflik terbuka. Perubahan ini menunjukkan bahwa dalam realitas politik internasional, kepentingan sering menjadi faktor yang menyatukan sekaligus memisahkan manusia.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam hubungan antarnegara. Dalam kehidupan sosial, politik, bahkan keagamaan, kepentingan sering kali menjadi motor yang bekerja di balik berbagai peristiwa, atas nama sodaqoh dan akan dibalas berlipat ganda oleh Allah dalam tuntunan agama dieksplotasi seorang Ustadz tenar untuk mengeruk keuntungan alias menipu jamaah.
Inilah ketika kepentingan menjadi nafsu, ‘agama' diperalat jadi legitimasi dicari melalui simbol, narasi, atau bahkan otoritas agama. Agama kemudian dipanggil untuk memberikan justifikasi moral atas tindakan manusia, entah dalam bentuk retorika, fatwa, maupun kutipan teks-teks keagamaan untuk mencari keuntungan
Di titik inilah persoalan menjadi kompleks. Agama pada hakikatnya hadir sebagai sumber nilai, etika, dan petunjuk moral bagi kehidupan manusia. Namun dalam praktik sosial, agama juga dapat mengalami apa yang oleh para ilmuwan sosial disebut sebagai instrumentalisasi—yakni ketika agama dijadikan alat untuk mendukung kepentingan tertentu. Dalam situasi seperti ini, batas antara nilai spiritual dan kepentingan pragmatis menjadi kabur.
Pemikir Muslim klasik Ibn Khaldun dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, pernah menyinggung fenomena ini ketika membahas hubungan antara agama, kekuasaan, dan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan besar yang mampu mempersatukan masyarakat, tetapi pada saat yang sama juga bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan legitimasi atas ambisi kekuasaan atau kepentingan pribadi. Karena itulah, menurut Ibn Khaldun, masyarakat perlu memiliki kesadaran intelektual agar tidak mudah terjebak dalam manipulasi simbol-simbol agama.
Refleksi ini membawa kita pada kesimpulan penting: bahwa yang sering kali menyatukan dan memisahkan manusia bukanlah semata-mata agama, melainkan kepentingan yang bekerja di baliknya. Agama dalam banyak kasus hanya menjadi bahasa legitimasi yang dipakai untuk memperkuat posisi moral suatu kepentingan.
Karena itu, sikap kritis menjadi sangat penting dalam membaca berbagai peristiwa sosial dan politik. Umat beragama tidak cukup hanya memiliki semangat religius, tetapi juga perlu dibekali dengan kemampuan berpikir rasional, literasi sejarah, serta kepekaan sosial. Tanpa sikap kritis, agama dapat dengan mudah dijadikan alat retorika yang menghipnotis emosi massa, sementara substansi nilai-nilai moralnya justru terabaikan.
Dalam tradisi Islam sendiri, sikap ini sejalan dengan prinsip wasathiyah, yakni sikap moderat yang menempatkan keseimbangan antara iman, akal, dan tanggung jawab sosial. Wasathiyah tidak hanya berarti sikap moderat dalam praktik keagamaan, tetapi juga kemampuan untuk bersikap adil, kritis, dan proporsional dalam menilai realitas.
Pada akhirnya, tantangan umat beragama di era modern bukan hanya menjaga kesalehan spiritual, tetapi juga menjaga agar agama tetap berada pada fungsi aslinya: sebagai sumber pencerahan moral, bukan sebagai alat legitimasi kepentingan sempit. Dengan kesadaran kritis dan semangat wasathiyah, agama dapat tetap menjadi kekuatan etis yang membimbing manusia menuju keadilan, bukan sekadar menjadi simbol yang diperebutkan dalam arena kepentingan.
wallahu a'lam

Comments
No comments yet. Be the first to comment!