rudyspramz, MPI
Lebih dari satu abad usia Muhammadiyah bukanlah sekadar hitungan waktu, tetapi jejak panjang perjuangan dakwah, pemikiran, dan amal nyata. Dalam rentang sejarah itu, kita diingatkan bahwa Muhammadiyah tidak boleh kehilangan historitasnya, nilai kesejarahannya, dan terputus sanad keilmuannya. Sebuah pesan mendalam bahwa gerakan ini tidak bisa hanya berjalan di tempat, apalagi melenceng dari ruh awalnya: tajdid dan pencerahan.
Terkait kritik terhadap Muhammadiyah dalam sebuah video itu, kami memandangnya meski tidak seratus persen benar tapi kita sikapi sebagai cermin yang harus dilihat secara jernih, bukan dengan amarah, tetapi dengan tekad untuk terus memperbaiki. Pertama, soal pemurnian ajaran agama, benar bahwa tantangan ini nyata. Masih banyak ruang dalam pengajian dan pendidikan kader yang belum cukup menyentuh inti dakwah Muhammadiyah, yaitu tauhid yang murni dan ibadah yang sesuai tuntunan tanpa mengabaikan prinsip toleransi dalam ajaran Islam. Ini menjadi catatan bersama, bahwa kita butuh penguatan ideologis yang lebih masif dan terstruktur. Baitul Arqam, Darul Arqam, dan pengkaderan lainnya harus jadi kawah candradimuka yang mengakar pada Manhaj Tarjih dan Himpunan Putusan Tarjih (HPT), bukan sekadar seremoni.
Kedua, kritik soal biaya pendidikan dan kesehatan di amal usaha Muhammadiyah (AUM) juga patut direnungi. Memang tidak bisa digebyah uyah, karena banyak AUM yang tetap berkhidmat untuk ummat secara murah bahkan gratis. Namun kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa akses terhadap AUM seringkali dianggap eksklusif karena biaya. Tantangan ini sedang dan terus direspons organisasi, termasuk melalui keputusan Muktamar dan penguatan Lazismu sebagai solusi strategis. Kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa regulasi dalam dunia pendidikan, kesehatan dan sosial mengikat AUM dan berbagai persoalan yang tidak terjadi di masa lalu menjadi tantangan yang harus dihadapi, semua butuh terobosan baru agar semangat berkemajuan tidak menjauh dari asas kemanusiaan dan keumatan.
Ketiga, dalam soal politik, Muhammadiyah tetap konsisten menjaga independensi. Tidak ada hubungan struktural dengan partai politik mana pun, dan ini adalah prinsip yang terus dijaga. Memang, secara kultural ada kedekatan sebagian tokoh dengan dunia politik, dan itu tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan organisasi. Namun ini juga menjadi pengingat agar para pimpinan senantiasa menjaga marwah Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, bukan alat kepentingan politik jangka pendek.
Kritik, jika datang dari niat baik, adalah tanda bahwa kita masih diperhatikan. Maka mari kita terima sebagai muhasabah dan motivasi. Jangan sampai kita menjadi besar secara amal usaha, namun kering secara ideologi. Jangan sampai Muhammadiyah maju secara fisik, tapi kehilangan ruh gerakan Islamnya.
Kini, saatnya kita kembali menghidupkan semangat tajdid, memperkuat manhaj, memperluas ta'lim, dan memperdalam fikrah. Sehingga Muhammadiyah tidak hanya besar dalam nama, tapi juga kokoh dalam cita dan karya. Karena sejatinya, yang membuat Muhammadiyah bertahan hingga lebih dari satu abad bukan sekadar bangunan fisik atau sistem administrasi, tetapi karena ia hidup di hati dan langkah para kader yang ikhlas, kritis, dan istiqamah.
wallahu a'lam

Comments
No comments yet. Be the first to comment!