Home > Article > Category > OPINI

Menempatkan Kiai dalam Kemanusiaannya: Refleksi tentang Kemuliaan dan Tauhid

Menempatkan Kiai dalam Kemanusiaannya: Refleksi tentang Kemuliaan dan Tauhid

 rudyspramz, MPI

Dalam kehidupan beragama, sering kali kita menemukan figur-figur yang menjadi panutan para ulama, guru, dan kiai. Mereka adalah pewaris para nabi, penerang jalan di tengah kegelapan zaman, dan sumber ilmu yang menuntun umat menuju Allah. Namun di tengah kekaguman itu, kita perlu jernih memandang satu hal yang hakiki: bahwa kemuliaan sejati hanya milik Allah, bukan milik manusia.

Tak ada manusia, seberapa alim atau zuhud pun, yang terlepas dari fitrah kemanusiaan. Setiap insan diciptakan dengan potensi lupa, khilaf, dan nafsu. Bahkan para nabi pun pernah diuji dengan keterbatasan manusiawi bukan untuk direndahkan, melainkan agar manusia belajar tentang makna rendah hati di hadapan Sang Pencipta. Maka, menempatkan kiai sesuai kemanusiaannya bukanlah bentuk pengingkaran atas ilmu dan jasanya, tetapi justru bentuk penghormatan yang lebih jujur dan proporsional.

Cinta kepada ulama adalah cinta kepada ilmu. Kita menghormati mereka karena perjuangannya menyampaikan kebenaran, bukan karena menganggapnya suci tanpa cela. Sebab, ketika cinta berubah menjadi kultus, di situlah garis tauhid mulai kabur. Pengagungan yang berlebihan terhadap manusia bisa secara halus menyingkirkan Allah dari pusat kesadaran kita. Padahal, segala kemuliaan, berkah, dan barokah berasal dari Allah semata bukan dari siapa pun di antara makhluk-Nya.

Manusia tidak memiliki ukuran pasti untuk menilai kemuliaan makhluk lain. Seseorang yang tampak sederhana di mata kita bisa jadi jauh lebih mulia di sisi Allah, sementara yang kita puji setinggi langit bisa saja tengah diuji dengan kesombongan yang halus. Karena itu, berhati-hatilah dalam menimbang kemuliaan dengan kacamata duniawi. Biarlah Allah yang menilai, sebab Dia Maha Mengetahui isi hati dan amal setiap hamba.

Menjaga adab kepada ulama tidak berarti menutup mata dari prinsip tauhid. Justru karena kita mencintai mereka, kita tempatkan mereka di posisi yang layak: manusia mulia yang berjuang di jalan Allah, namun tetap manusia yang tak luput dari keterbatasan. Dengan begitu, kita memuliakan mereka tanpa menodai kemurnian aqidah kita.

Pada akhirnya, menghormati kiai dengan proporsional adalah bagian dari menjaga keutuhan iman. Kita boleh kagum pada keilmuannya, meneladani akhlaknya, dan meniti jalan yang dia tunjukkan. Namun hati kita harus tetap tertambat hanya kepada Allah, sumber segala kemuliaan dan pemilik segala keberkahan.

Sebab jika cinta kepada guru membuat kita lupa kepada Tuhan, maka itu bukan lagi cinta yang mendekatkan  melainkan tirai halus yang menjauhkan.
Dan sungguh, tiada kemuliaan yang sejati kecuali yang datang dari-Nya. 

Wallahu a'lam

Comments

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Reply