Banyak orang bertanya, mengapa ya, Kak Muhammadiyah dan
Adik NU hingga hari ini tetap bisa rukun, meski perbedaan di antara keduanya begitu nyata.
Bukankah langkah mereka tak selalu seirama?
Bukankah fikrah mereka tak selalu sama?Bukankah cara dakwahnya berbeda rupa?Yang satu tegas menata barisan, yang satu lembut merawat tradisi.
Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul, terutama ketika perbedaan lebih sering dibaca sebagai ancaman, bukan sebagai kekayaan.
Namun dengarlah, perbedaan bukan alasan untuk berpisah, sebab mereka lahir dari rahim yang sama:
Islam yang memuliakan persaudaraan.
Buah dari cinta dan kasih sayang luar biasa kedua tokoh pendirinya, Kak Dahlan dan Adik Hasyim Asy'ari.
Dimana keduanya menghabiskan masa muda mereka selalu bersama, berjibaku dalam samudera ilmu, berguru kepada ulama besar yang sama. Bahkan ngliwet dalam satu bejana, makan sepiring berdua. Masya Allah...
Muhammadiyah sejak awal menitikberatkan dakwahnya pada pemurnian dan penguatan kualitas umat. Fokusnya jelas: membangun ilmu yang lurus, iman yang kokoh, dan amal yang terukur, sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Pendidikan, kesehatan, dan amal usaha menjadi sarana untuk mencetak Muslim yang berdaya, rasional, dan bertanggung jawab.
Ketegasan sikap dan disiplin manhaj bukan untuk menjauhkan, melainkan untuk menjaga agar umat memiliki standar yang kuat dalam beragama dan beramal.
Sementara itu, NU hadir dengan watak pengayoman. Umat yang dihadapi mayoritas awam, heterogen, dan hidup dalam latar budaya yang beragam.
Jika didekati dengan kekerasan dan penyeragaman, mereka bisa lari dan merasa asing dengan agamanya sendiri. Karena itu NU memilih jalan menjaga, merangkul, dan membimbing dengan kemudahan Islam.
Pendekatan ini sejatinya meneladani apa yang Rasulullah SAW. lakukan di Madinah: menyatukan masyarakat yang beragam, bertahap dalam membina, dan mengedepankan hikmah agar iman tumbuh tanpa paksaan.
Di sinilah perbedaan itu seharusnya dibaca. Bukan sebagai pertentangan, melainkan sebagai pembagian peran.
Muhammadiyah menguatkan kualitas, NU menjaga kuantitas.
Yang satu menata barisan agar lurus dan kokoh, yang lain memastikan tak ada yang tercecer dan tertinggal.
Keduanya berjalan di rel yang sama, menuju tujuan yang sama, meski dengan kecepatan dan pemandangan yang berbeda.
Perbedaan ini ibarat saudara kandung dalam satu rumah.
Ada yang gemar makanan pedas, ada yang memilih manis.
Sesekali bertengkar soal selera, kadang meninggikan suara, tetapi tidak pernah benar-benar memasukkannya ke dalam hati.
Sebab mereka sadar, yang dipertaruhkan bukan soal rasa, melainkan ikatan darah dan kasih sayang.
Setelah emosi reda, mereka kembali duduk di meja yang sama, berbagi hidangan yang sama.
Sayangnya, di zaman penuh fitnah, tetap aja ada person/oknum Muhammadiyah dan NU berhati cupet berilmu seret, berusaha mencuatkan perbedaan kecil lalu dibesarkan, dan luka ringan dipelihara hingga bernanah.
Ukhuwah diuji bukan oleh perbedaan itu sendiri, melainkan oleh ketidakmampuan kita menyikapinya dengan bijak.
Padahal Islam tidak menuntut keseragaman mutlak, tetapi kedewasaan dalam bersaudara.
Jika Muhammadiyah dan NU saja bisa saling memahami peran dan batasnya, mengapa kita yang berada di bawah naungannya justru gemar mengadu dan merendahkan?
Bukankah tujuan kita sama, yakni menjaga agama ini tetap hidup di hati umat, sekaligus tetap murni dalam tuntunan?
Menakar ukhuwah hari ini berarti belajar menahan lisan, melapangkan dada, dan menempatkan perbedaan pada proporsinya.
Bukan mencari siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kebenaran itu bisa sampai dan diamalkan oleh umat.
Sebab Islam tidak dibangun oleh satu warna saja, melainkan oleh harmoni banyak warna yang saling menguatkan.
~Ki Sabdo Langit~

Comments
No comments yet. Be the first to comment!