Oleh : Rudyspramz, MPI
Perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini menunjukkan gejala yang menarik. Sekolah-sekolah Islam, baik yang dikelola oleh Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, sama-sama mengalami kemajuan signifikan dalam aspek sarana-prasarana, tata kelola, serta integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks ini, batas-batas yang dahulu tampak tegas antara “tradisional” dan “modern” mulai mengalami pergeseran.
Fenomena yang muncul adalah semacam konvergensi kultural. Banyak sekolah berbasis tradisi kini mengadopsi pendekatan modern dalam manajemen dan pembelajaran, sementara sekolah modern justru menguatkan dimensi keagamaan seperti tahfidz Al-Qur’an, pembiasaan ibadah, dan penguatan spiritualitas. Dalam arti tertentu, terjadi saling adopsi nilai dan praktik: yang dahulu dianggap “ciri khas” masing-masing kini menjadi milik bersama.
Namun demikian, konvergensi ini tidak serta-merta menghapus perbedaan mendasar. Pada ranah ushuliyah khususnya dalam aspek aqidah dan praktik ibadah distingsi antara corak tradisionalis dan modernis tetap terasa. Muhammadiyah, dengan semangat tajdid, cenderung mempertahankan pendekatan purifikasi dan rasionalisasi, sedangkan NU tetap berakar pada tradisi keilmuan klasik dengan pendekatan yang lebih akomodatif terhadap khazanah lokal dan spiritualitas.
Menariknya, dalam perkembangan mutakhir, kedua arus ini menunjukkan kecenderungan saling mendekat. Di lingkungan Muhammadiyah, pendekatan irfani dan dimensi spiritual mulai mendapatkan ruang, meskipun dalam formulasi yang khas. Sebaliknya, di kalangan NU, meningkatnya jumlah kaum terpelajar turut mendorong pendekatan yang lebih rasional dan reflektif terhadap tradisi, termasuk dalam memaknai praktik seperti ziarah yang bergeser dari orientasi “ngalap berkah” menuju peneladanan historis.
Dalam konteks era postmodernisme yang ditandai oleh pluralitas, relativitas, dan dekonstruksi narasi besar perkembangan ini menjadi semakin kompleks. Lanskap pemikiran keagamaan tidak lagi sekadar terbagi dalam dikotomi tradisional vs modern, tetapi bergeser ke spektrum yang lebih luas: fundamentalisme, moderatisme, dan liberalisme.
Di tengah spektrum tersebut, baik NU maupun Muhammadiyah secara umum menempatkan diri sebagai representasi Islam moderat. Dalam Muhammadiyah, konsep Islam Wasathiyah yang menekankan keseimbangan, inklusivitas, dan kemajuan telah lama menjadi bagian dari diskursus resmi organisasi. Gagasan ini semakin menemukan relevansinya dalam menghadapi isu-isu global seperti hak asasi manusia, kesetaraan gender, pluralitas, dan kebebasan.
Pemikiran ini berkembang dinamis, terutama sejak era Ahmad Syafii Maarif dan diperkuat oleh pendekatan integratif-interkonektif yang digagas Amin Abdullah. Diskursus keislaman pun menjadi semakin terbuka, dialogis, dan sekaligus penuh perdebatan yang produktif.
Dengan demikian, konvergensi antara tradisionalisme dan modernisme tidak berujung pada peleburan total, melainkan pada pembentukan lanskap baru pemikiran Islam yang lebih cair namun tetap berakar. Tantangan ke depan bukanlah memilih antara menjadi fundamentalis, moderat, atau liberal, tetapi bagaimana merumuskan posisi keagamaan yang kokoh secara teologis, terbuka secara intelektual, dan relevan secara sosial dan perkembangan jaman
Dalam kerangka itulah, Islam Wasathiyah menemukan momentumnya: sebagai jalan tengah yang tidak sekadar kompromistis, tetapi juga transformatif menghubungkan tradisi dan pembaruan, spiritualitas dan rasionalitas, serta lokalitas dan universalitas. Dan dalam wacana kontemporer pilihan jalan tengah diantara yang serba keras dan serba bebas.
wallahu a'lam
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!