Oleh : Ilham Akbar, PCM Sapuran
Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang kaya amal usaha. Sekolah berdiri megah, rumah sakit melayani dengan profesional dan kegiatan sosial terus bergerak tanpa henti, namun di balik ramainya amal tersebut, terselip satu kegelisahan yang kian terasa yaitu ruang² pengajian justru sepi kehadiran warga
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kehadiran fisik, melainkan sinyal tentang laparnya ilmu keagamaan di tengah semangat amal yang terus dipacu.
Pengajian sejatinya adalah jantung ideologis Muhammadiyah, dari sanalah pemahaman keislaman yang murni, rasional dan berkemajuan ditanamkan... Ketika pengajian mulai ditinggalkan dengan alasan *kesibukan, lelah atau merasa _“sudah cukup paham”_* maka yang terjadi bukan efisiensi waktu, melainkan perlahan² terjadinya erosi kesadaran keilmuan. Amal yang tidak disertai penguatan ilmu berisiko kehilangan arah dan ruh tajdidnya.
Ironisnya, sebagian warga lebih bersemangat hadir dalam acara seremonial atau kegiatan struktural dibandingkan duduk khusyuk menuntut ilmu dalam majelis pengajian Padahal, amal tanpa ilmu dapat berubah menjadi rutinitas kosong dan bahkan berpotensi menyimpang dari nilai dasar yang diperjuangkan.
Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun hanya sebagai organisasi kerja tetapi sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang berpijak pada ilmu. Kemalasan mengikuti pengajian juga berdampak langsung pada kualitas pemahaman keagamaan warga.
Gejala ini tampak dari mudahnya sebagian orang terpengaruh narasi keagamaan instan, potongan ceramah media sosial atau pandangan yang tidak sejalan dengan manhaj Muhammadiyah Ketika pengajian formal ditinggalkan, ruang belajar justru diisi oleh sumber² yang tidak terverifikasi bahkan kadang kontraproduktif dengan nilai wasathiyah.
Di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pengajian kerap diposisikan sebagai bagian dari indikator kinerja, penilaian kepegawaian atau instruksi struktural karena tidak sedikit karyawan, guru, maupun tenaga kesehatan yang hadir dalam pengajian lebih karena kewajiban administratif daripada dorongan kesadaran keilmuan dan spiritual (Majelis MSDI mulai bergerak)
Kehadiran menjadi formalitas, absensi menjadi tujuan, sementara proses internalisasi nilai sering kali berjalan setengah hati..Pengajian yang seharusnya menjadi ruang pencerdasan jiwa, berisiko berubah menjadi agenda rutin yang kehilangan makna substantif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran ideologis belum sepenuhnya tumbuh sebagai kebutuhan personal, melainkan masih bergantung pada dorongan struktural. Ketika pengajian hanya hidup karena instruksi maka ia akan redup saat instruksi melemah. Padahal, kekuatan Muhammadiyah sejak awal bukan terletak pada kepatuhan semata melainkan pada kesadaran kolektif untuk terus belajar dan bertajdid Tanpa kesadaran tersebut, pengajian hanya melahirkan kehadiran fisik bukan kehadiran intelektual dan spiritual yang mampu menghidupkan ruh persyarikatan.

Comments
No comments yet. Be the first to comment!