Oleh : Rudyspramz, MPI
Muhammadiyah sering dipahami sebagai gerakan Islam yang tidak terikat pada satu mazhab tertentu. Namun demikian, hal itu bukan berarti Muhammadiyah memutus mata rantai keilmuan Islam klasik ataupun mengabaikan peran besar para ulama mazhab dalam membimbing umat. Tradisi keilmuan yang diwariskan para imam mazhab tetap dihormati sebagai bagian penting dari sejarah panjang peradaban Islam yang telah mengantarkan umat menuju pemahaman agama secara sistematis dan berakar.
Memang, sebagian kitab-kitab klasik beserta tradisi syarah dan hasyiyah sering dipandang dapat melahirkan kejumudan apabila dipahami secara tekstual dan tanpa kritik. Akan tetapi, dalam perspektif sejarah, karya-karya tersebut tetap memiliki jasa besar dalam menjaga kesinambungan ilmu, akhlak, serta praktik keberagamaan umat Islam lintas generasi. Muhammadiyah memandang warisan itu bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, melainkan dikaji kembali secara kritis, proporsional, dan terbuka dalam semangat tajdid.
Karena itu, dalam merumuskan faham keagamaannya, Muhammadiyah tidak mengambil sikap apriori terhadap tradisi mazhab. Terutama dalam persoalan ibadah, berbagai praktik yang hidup di tengah masyarakat dikaji secara mendalam: ditelusuri dasar dalilnya, diperiksa tingkat kesahihannya, serta dianalisis relevansinya dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tajdid bukanlah semangat menolak tradisi secara membabi buta, melainkan upaya pemurnian dan pembaruan yang tetap berpijak pada metodologi ilmu.
Di dalam proses itu, Muhammadiyah juga memberikan ruang dialog dan keterbukaan pemikiran. Sebelum suatu pandangan menjadi keputusan resmi yang mengikat melalui tarjih, banyak persoalan terlebih dahulu berada dalam wilayah wacana dan fatwa. Dalam kenyataannya, tidak jarang terdapat perbedaan pandangan antara tingkat wilayah maupun daerah, dan hal tersebut tetap dipandang wajar selama belum menjadi keputusan organisasi yang bersifat mengikat.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa Muhammadiyah memiliki kultur intelektual yang dinamis, deliberatif, dan tidak anti terhadap perbedaan pendapat.
Lebih jauh, pendekatan epistemologi Muhammadiyah yang memadukan bayani, burhani, dan irfani menunjukkan keluasan horizon keilmuannya. Pendekatan bayani menekankan kekuatan dalil teks, burhani mengedepankan rasionalitas dan argumentasi ilmiah, sedangkan irfani memberi ruang pada dimensi hati, spiritualitas, pengalaman batin, dan kehalusan rasa. Dalam konteks sejarah masuknya Islam di Nusantara yang banyak bercorak spiritual dan mistik, pendekatan irfani dapat dipahami sebagai bagian dari realitas dakwah dan proses internalisasi nilai Islam dalam masyarakat.
Dengan demikian, Muhammadiyah sesungguhnya tidak berdiri secara kaku dalam wajah modernisme yang kering spiritualitas. Sebaliknya, Muhammadiyah berupaya menampilkan corak keberagamaan yang wasathiyah - moderat, inklusif, dan berkemajuan - yakni menghargai tradisi keilmuan klasik tanpa harus terjebak dalam taqlid, sekaligus terbuka pada pembaruan tanpa kehilangan pijakan wahyu.
Pada akhirnya, seluruh proses tersebut tetap bermuara pada semangat tajdid: menghadirkan Islam yang murni, rasional, membebaskan, dan relevan bagi perkembangan zaman.
wallahu a'lam
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!