oleh : Rudyspramz,MPI
Dalam bentang jaman sampai saat ini agama terasa hadir sebagai syifa, obat bagi kegelisahan jiwa, penawar keletihan hidup, dan sumber ketenangan batin manusia bahkan 'pelarian' bagi yang mengalami kegelapan hidup dan itu tidak salah
Dalam perspektif psikologi dan sosiologi agama, keimanan memberikan stabilitas emosional, harapan, dan makna hidup, ketika menghadapi persoalan hidup dan memang dalam Islam sendiri Rasulullah bersabda bahwa tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya. Artinya ada energi dalam pengamalan islam dan ada balasan pahala dan ampunan dibalik lelah letih dalam sabar, inilah sisi kemanusiaan agama dan Rahmat Allah
Namun dalam perjalanan sejarah, terdapat kecenderungan sebagian kalangan memahami agama hanya sebagai spiritualitas individual yang statis dan terpisah dari dinamika sosial. Pemahaman yang beku dan tertutup sering kali memunculkan kesan bahwa agama menjauhkan manusia dari realitas kemajuan.
Kondisi ini dalam beberapa konteks sejarah dimanfaatkan oleh kelompok sekuler dan komunis untuk mengkritik bahkan menolak agama, dengan tuduhan klasik bahwa agama adalah “candu” yang meninabobokan yang melemahkan daya juang manusia, babakan pppp. Persepsi negatif tersebut tidak jarang lahir dari praktik keberagamaan umat yang kurang tepat dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama secara utuh dan kontekstual.
Di sinilah pentingnya gerakan pembaruan (tajdid) dalam Islam. Muhammadiyah hadir sebagai salah satu representasi gerakan tajdid yang berakar kuat pada sanad keilmuan para ulama pembaharu, ulama mazhabi, sahabat, hingga Rasulullah SAW. Gerakan ini menegaskan pemurnian dalam aqidah dan ibadah sekaligus mendorong dinamisasi dalam muamalah duniawiyah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa agama tidak bertentangan dengan kemajuan, tetapi justru menjadi fondasi etika, ilmu pengetahuan, dan peradaban.
Secara ilmiah, model keberagamaan yang memadukan purifikasi dan dinamisasi mampu menghadirkan agama sebagai kekuatan transformasi sosial. Agama tidak hanya berfungsi sebagai pelipur lara spiritual, tetapi juga sebagai energi pergerakan untuk membangun pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial yang berkemajuan.
Dengan demikian, agama tetap relevan dalam menjawab tantangan modernitas tanpa kehilangan kemurnian nilai-nilai dasarnya. Keberadaan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan memberikan harapan bahwa agama memiliki masa depan yang cerah dalam membangun peradaban. Tajdid yang berkelanjutan memastikan bahwa ajaran Islam tetap hidup, kontekstual, dan solutif bagi umat manusia.
Kebanggaan bagi kita menjadi bagian dari Muhammadiyah yang bukan semata identitas organisatoris, melainkan di dalam faham keagamaan Muhammadiyah ada Komitmen Tauhid, intelektualitas dan spiritualitas untuk terus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.
Apabila umat Islam memahami agama secara komprehensif, sebagai nilai perjuangan, komitmen moral dan energi pembebasan dan sebagai landasan peradaban, maka agama akan kembali menjadi kekuatan utama dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.
Dalam kerangka itulah, gerakan tajdid Muhammadiyah menjadi salah satu jalan strategis untuk memastikan bahwa agama tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin kebangkitan peradaban Islam di masa depan
wallahu a'lam

Comments
No comments yet. Be the first to comment!